Kajian mengenai natural product saat ini sedang dikembangkan oleh berbagai penelitian yang dilakukan oleh berbagai ahli, salah satu pemanfaatan natural product yang sedang dalam pengembangan adalah sebagai obat (medicine). Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai natural product medicine tersebut, Pusat Unggulan IPTEK Nutrasetikal, Pusat Penelitan Biosains dan Bioteknologi (PUIPT Nutrasetikal) ITB bekerja sama dengan Kelompok Keilmuan Biologi Farmasi, Sekolah Farmasi (SF) ITB menyelenggarakan seminar daring nasional dengan topik “National Webinar Natural Product Medicine pada Sabtu, 7 November 2020. Seminar ini dimoderatori oleh Dr. Muhammad Insani dengan narasumber yang merupakan akademisi dengan disiplin imu yang sesuai dengan topik natural product medicine tersebut, yaitu Prof. Komar Ruslan Wirasutisna (Sekolah Farmasi, ITB), Prof. Dr. Asep Gana Suganda (Sekolah Farmasi, ITB), dan Prof. Dr. Geoffrey A. Cordell (University of Florida, USA). Acara ini dibuka oleh moderator dan dilanjutkan dengan pemaparan isi materi dari masing-masing narasumber.

 

 

Sesi pertama diawali dengan pemaparan dari Prof. Dr. Geoffrey A Cordell (University of Florida, USA) mengenai “Natural Product of Society : Challenges for 2030”. Pada pemaparannya, Prof. Dr. Geoffrey A. Cordell mengenalkan berbagai jenis natural product yang seringkali ditemukan, seperti pada bahan makanan, penyedap rasa dan rempah-rempah, parfum dan kosmetik, obat-obatan tradisonal, dan berbagai produk lainnya. Prof. Dr. Geoffrey A. Cordell menjelaskan bahwa pada tahun 2030 akan terjadi peningkatan populasi manusia yang tinggi disertai dengan perubahan pada iklim di bumi, sehingga berbagai kebutuhan hidup akan menjadi semakin tinggi. Perubahan iklim akan mempengaruhi produksi dan sumber tanaman obat, serta minyak esensial, sehingga dilakukan study mengenai sumberdaya alam berkelanjutan yang aktif secara biologis yang disebut ecopharmacognosy. Beliau menyampaikan, untuk menghadapi tantangan natural product tahun 2030, dibutuhkan pengembangan program kolaboratif multisenter internasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas, keamanan, kemanjuran, konsistensi dan aksesibilitas produk.

Sesi selanjutnya, Prof. Komar Ruslan Wirasutisna (Sekolah Farmasi, ITB) dengan topik “Urgensi Sinergisme dan Kolaborasi dalam Pengembangan Obat Herbal” memaparkan mengenai potensi besar yang terdapat pada obat bahan alam di Indonesia dimana 25.821 ramuan dari 2.670 spesies tumbuhan obat di Indonesia tersebar pada 303 etnis di 24 provinsi. Obat bahan alam terdiri dari beberapa jenis, yaitu (1) jamu, yang didukung dari bukti empiris, (2) obat herbal terstandar, yang berasal dari jamu dan telah melalui uji praklinik dan mutu produk, dan (3) fitofarmaka, yang telah melalui uji praklinik (toksisitas dan farmakodinamik), mutu produk, dan uji klinik. Pengembangan obat bahan alami ini membutuhkan strategi yang perlu diambil dimana proses dimulai dari proses penyediaan bahan baku, studi etnofarmakologi, pembuktian khasiat dan keamanan, teknologi ekstraksi, proses produksi, hingga distribusi pada pasien. Beberapa kelemahan pada pengembangan obat bahan alam seperti sumber bahan obat alam sebagian besar bukan merupakan tumbuhan budidaya, bahan baku diperoleh dari pengumpul atau pedagang simplisia, mutu simplisia kurang memenuhi persyaratan, kurangnya pelatihan teknis pada pengumpul bahan baku, kurangnya pemanfaatan hasil penelitian ilmiah dalam pengembangan produk, dan standarisasi bahan baku yang belum optimal. Beliau berharap setiap stakeholder yang memiliki peran di bidang tersebut harus dilibatkan dan saling bersinergi sehingga obat bahan alam ini dapat dipercaya dalam pengobatan yang diperkuat oleh riset yang berkualitas.

Sesi terakhir ditutup oleh pemaparan dari Prof. Dr. Asep Gana Suganda (Sekolah Farmasi, ITB) mengenai “Tumbuhan : dari dapur untuk penggunaan lain” dimana bahan bumbu dapur yang digunakan dalam keseharian memiliki manfaat penggunaan lain seperti bahan pengobatan, sumber senyawa aktif biologi/farmakologi, sumber precursor obat, bahan baku kosmetik, hingga media molecular farming. Jenis tumbuhan Zingiberaceae sebagai bumbu berpotensi dalam pemanfaatan lain, yaitu (1) Boesenbergia rotunda atau temu kunci dapat digunakan sebagai antivirus (HIV-protease, Dengue-protease, EBV), antioksidan, toxicity test dan lainnya, (2) Alpinia galanga atau lengkuas dapat dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit kulit, gangguan pencernaan, hingga kesehatan hewan, (3) Kaempferia galanga atau kencur memiliki manfaat sebagai antimikroba, insektida, antituberkulosis, analgesik dan antiinflamasi, dan berbagai kegunaan lainnya, (4) Elettaria cardamomum atau kapulaga yang dimanfaatkan sebagai obat asma, infeksi gusi dan gigi, radang tenggorokan, penambah nafsu makan, gangguan saluran cerna, dan manfaat lainnya, dan (5) Curcuma xanthorrhiza atau temulawak dengan berbagai kegunaan dalam dunia farmakologi.

Tanya jawab kepada para narasumber dilakukan setelah penyampaian materi dari masing-masing narasumber. Antusias pada peserta yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada saat sesi tanya jawab dari setiap narasumber dan terjalinnya diskusi antara narasumber dan peserta. Kemudian, acara ini ditutup dengan sesi foto bersama bagi seluruh peserta dan narasumber.

 

Link youtube : Click Here

Leave a Comment